Pariwisata

Jokowi Ajak Anak Muda Garap Bisnis Pariwisata Hingga Toko Online

Administrator | Selasa, 28 Maret 2017 - 10:47:22 WIB | dibaca: 1753 pembaca

Foto: Ardan Adhi Chandra/detikFinance

Jakarta - Dalam sambutannya saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) hari ini, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengajak para pengusaha muda mengembangkan industri pariwisata nasional.

Jokowi mengungkapkan, Indonesia memiliki potensi sangat besar di sektor pariwisata. Pemerintah telah menetapkan 10 Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) untuk digarap sebagai destinasi wisata baru, mulai dari Danau Toba hingga Labuan Bajo.

Pariwisata diyakini akan menjadi salah satu sumber ekonomi terbesar di masa mendatang, di samping industri pengolahan berbasis sumber daya alam.

Pemerintah akan menyiapkan infrastruktur dasar ke destinasi-destinasi wisata tersebut. Para entrepreneur muda diminta Jokowi masuk ke sarana pendukungnya seperti restoran, penginapan, kerajinan tangan, dan sebagainya.

Baca juga: Jokowi Sebut Tiga Poin Penting Dalam Dunia Usaha

"Kekuatan kita di Indonesia adalah di industri pariwisata. Masuklah anak-anak muda ke industri ini karena sangat menjanjikan. Sekarang kita bikin 10 destinasi wisata baru, masuk ke sana. Silakan masuk ke sarana pendukungnya, bikin restoran, souvernirnya. Danau Toba, Morotai, Labuan Bajo, Pulau Komodo," kata Jokowi di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Senin (27/3/2017).

Selain itu, Jokowi juga menilai industri yang berkaitan dengan gaya hidup punya pangsa pasar besar di Indonesia. Pengusaha muda yang cocok untuk masuk ke sini, bukan pengusaha-pengusaha tua. Sebab, pengusaha muda lebih bisa membaca selera pasar, lebih melek teknologi, lebih mudah beradaptasi.

"Yang berkaitan dengan lifestyle akan berkembang di negara kita. Kuliner, media, online store akan berkembang pesat. Ini anak-anak muda yang bisa, sudah enggak bisa yang seumur-umur saya, sudah sulit. Ini yang kita sering kalah sama negara lain," ucapnya.

Jokowi juga berpesan agar pengusaha-pengusaha muda Indonesia dapat menggarap bisnis proses outsourcing, seperti yang dilakukan Filipina.

"Bisnis proses outsourcing (BPO), di Filipina bisa menghasilkan US$ 25 miliar per tahun. Kita enggak masuk ke sana. Kita mungkin jangan masuk ke telemarketing yang sudah dikuasai Filipina, tapi ke desain grafis, arsitektur. BPO menjanjikan sekali. Yang bisnis ini anak muda, bukan anak tua. Yang kayak Pak Abdul Latif, Pak Setya Novanto, Pak Agung Laksono, sudah enggak bisa," tutupnya. (finance.detik.com/mca/hns)










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)